Universitas Brawijaya

Selasa, 26 Juli 2011

PT. Bio Farma Gandeng UB Kembangkan Riset Vaksin

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen vaksin satu-satunya di Indonesia, PT. Biofarma, sepakat bekerjasama dengan Universitas Brawijaya (UB). Penandatanganan dilangsungkan Selasa (26/7) di Jakarta antara Rektor UB Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito dan Direktur PT. Biofarma Drs. Iskandar, Apt., MM. Kerjasama ini merupakan salah satu realisasi strategi PT. Biofarma, melibatkan tiga unsur Academic, Business and Government (ABG) dalam menjalankan risetnya. Selain UB, perguruan tinggi lain yang juga turut terlibat adalah Universitas Achmad Yani Bandung dan Universitas Indonesia Jakarta. Penandatanganan kerjasama ini merupakan bagian dari kegiatan simposium yang diselenggarakan guna memperingati ulang tahun PT. Biofarma ke-121. Mengambil tema "Kemandirian Riset Vaksin Indonesia Melalui Sinergi Academic, Business And Government Dalam Menyongsong Dekade Vaksin 2011-2020", kegiatan ini berupaya mendorong terciptanya suatu riset vaksin yang kuat melalui sinergi berkelanjutan antara ketiga entitas ABG tersebut.

Kepada PRASETYA Online, Ketua Laboratorium Sentral Ilmu Hayati (LSIH) Fatchiyah, PhD menyatakan, melalui kerjasama ini PT. Biofarma bermaksud mewujudkan triangle ABG. Fatchiyah yang menjadi delegasi UB dalam kegiatan tersebut mengurai peran masing-masing dalam triangle tersebut. Dunia akademik misalnya menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM) dan penelitian dengan sarana prasarana yang menunjang Good Manufacturing Process (GMP) yang didukung oleh kalangan industry (business).  Sementara itu, pemerintah membuat kebijakan yang berpihak pada pelaksanaan riset dan pengadaan sarana prasarana yang berbasis GMP. Selain itu, pemerintah juga diminta membuat kebijakan pro industri guna mengembangkan dan memproduksi vaksin manusia di Indonesia.
Fatchiyah menambahkan, nota kesepahaman kerjasama ini meliputi pendidikan dan pelatihan untuk pengembangan SDM dan penelitian/pengembangan industri bioteknologi dan produk biologi. Selain itu, dibahas pula pengkajian dan penelitian kedokteran klinik, pengkajian dan penelitian kesehatan masyarakat, publikasi bersama serta pertukaran informasi ilmu dan teknologi.
Dalam keterangannya, Fatchiyah menyebutkan bahwa PT Bio Farma (Persero) telah mendedikasikan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk memproduksi vaksin dan antisera berkualitas internasional. Hal ini berperan penting dalam mendukung program imunisasi nasional guna mewujudkan masyarakat Indonesia dengan kualitas derajat kesehatan yang lebih baik. Selain itu, Bio Farma juga senantiasa berinovasi dalam produksinya dengan mengacu pada standar internasional dan sistem manajemen mutu terkini.
Utusan khusus Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Triono Soendoro, M.Sc, M.Phil., PhD dalam acara ini menyampaikan keynote speech mengenai "Sinkronisasi dan Harmonisasi Riset Vaksin Nasional Dalam Rangka Menyongsong Dekade 2011-2020". Pada kegiatan ini, dipaparkan pula kebijakan pemerintah terkait pengembangan vaksin di Indonesia dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Riset dan Teknologi serta perwakilan Komisi IX DPR RI. Kebijakan ini merupakan manifestasi peran lembaga eksekutif dan legislatif dalam mendorong pengembangan vaksin nasional. Bahasan tentang regulasi pemerintah terkait riset pengembangan vaksin nasional juga diulas secara jelas oleh dua orang pembicara lain yakni Luis J. Da Salva (Direktur vaksin dengue Korea Utara) dan Prof. David Jackson (Melbourne University, Australia).
Perwakilan UB lainnya, prof. Dr. drh. Aulanni'am, DES dalam kegiatan ini diberi kehormatan untuk menyampaikan hasil-hasil penelitiannya dalam pengembangan vaksin kontrasepsi pria dan wanita yang meminimalkan efek samping pengguna vaksin tersebut. Dosen Kimia FMIPA ini juga merilis buku karangan terbarunya berjudul "Inhibin B: Strktur dan Karakter Biokimia Sebagai Kandidat Kontrasepsi Pria". "Buku terbitan Airlangga University Press ini merupakan wujud pengabdian kepada masyarakat terkait penyebarluasan hasil iptek", kata Fatchiyah. Delegasi UB yang juga turut hadir dalam kesempatan tersebut adalah Prof. Dr. Sutiman B Sumitro, SU. (Biologi FMIPA), Prof. Dr. Marjono, M.Phil. (Dekan FMIPA), Dr. Ing. Setyawan Purnama Sakti, M.Eng. (Pembantu Dekan Bidang Akademik FMIPA) dan Prof. Dr. dr. M. Rasyad Indra, MS (Pembantu Dekan Bidang Administrasi dan Keuangan FK)
sumber 

1 komentar:

STUDIO 13 Stationery Production mengatakan...

Setuju dan bangga. Kalau Biji saga ( Abrus Precatorius ) Dengar engar bisa buat obat, adakah penelitianya? kalau belum tidak tertarikkah untuk mengadakan penelitian? Soalnya cerita kakaek saya biji saga bisa buat obat bisul jaman dulu. ( bisakah bisul dikatakan kanker jinak? ) Trimakasih

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons